'disini untuk koding ga bisa di copy display:block; -webkit-user-select:none; -moz-user-select:none; -khtml-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; unselectable:on;

Tulisan Favorit

.

Pulsa Murah

Puisi: Tangisan dari Tanah...



 
sumber gambar: pribadi

Berita dari tanah itu sungguh tak elok.
Tak menarik bagi jiwa yang lemah sepertiku;
Jiwa yang tak ingin melihat ketidakberdayaan.
Jiwa yang tak ingin mendengar jeritan kemalangan.
Jiwa yang tak ingin mencium bau penderitaan.
Karena hanya akan menghadirkan tangisan;
Mengiris hati dari raga yang tak mampu berbuat.
Mencabik-cabik perikemanusiaan.
Menelanjangi moralitas.
Dan menenggelamkan mimpi-mimpi dalam kesuraman.

Aku tak mau melihat tagisan mereka;
Mereka yang sudah lupa indahnya mentari pagi atau tarian udara segar yang memanjakan.
Mereka yang tenggelam dalam penderitaan siang dan malam.
Mereka yang sudah tidak bisa membedakan hari ini dan esok hari.
Mereka yang hanya tahu suara nyaring dan dentum penghantar kematian.
Mereka yang tak tahu ada di surga atau neraka.

Satu tetes air mata mereka adalah jutaan jarum tajam yang menghujam ribuan relung hati penjuru dunia;
Yang hanya bisa menghantar do’a atau berbuat sekedarnya;
Yang hanya bisa memenjarakan amarah dalam lubang gelap ketidakberdayaan.


Syams-X
Bandung, 2016
Baca Selengkapnya »

Puisi: Dia Yang Merindukan Bumi


sumber gambar: pribadi



Dia rindu bumi
Sudah tak nyaman menginjakan kaki di langit
Keindahannya untuk mata yang jauh
Kemegahannya untuk impian
Gemerlapnya untuk kisah-kisah menjelang tidur

Dia rindu bumi
Membuatnya buta tuli
Di sana tak terlihat cahaya palsu
Menyinari hati hanya untuk menggores luka
Tak terdengar satupun bunyi dengki,
atau amarah yang salah arah hanya untuk terlihat gagah

Dia rindu bumi
Baginya, badai di langit terlalu besar
Menerbangkan hati hanya untuk menjatuhkan
Kata mutiara hanya pengalihan dari bisa yang tersembunyi
Jalanan indah berisikan benang yang mengikat
Mengarahkan langkah menentang diri

Dia rindu bumi
Mengikrarkan hati untuk kembali
Melepaskan jubah kebanggan sebagai penghuni langit
Memisahkan diri dari matahari dan para bintang,
yang selalu merasa gemerlap meski istananya adalah  lubang hitam

Dia rindu bumi
Rindu memeluk daratan lusuh yang memberinya cinta
Rindu berenang di dalam lumpur hitam namun berisikan kebahagiaan

Dia Rindu Bumi
Rindu menjadi diri sendiri

Syams-X
Bandung, 2015
Baca Selengkapnya »

Jejak Yang Terabaikan



sumber gambar: devianart


Untuk apa kau cari jejak keindahan di tanah Iram?

Jika pelajarannya kau abaikan.

Dia sudah mati bersama kejayaan masa lalu;

Yang gemerlap dan megah tetapi dikotori gumpalan hawa nafsu;

Yang jejaknya selalu dikagumi dan menjadi hiasan sejarah tanpa mengambil sedikit pun intisari dari kalam yang tersirat.

Sama seperti ratusan kejayaan lainnya.

Syams-X
Majalengka, 2017
Baca Selengkapnya »

Senandung i



sumber gambar: theangrysaint



janjimu basi

sudah terlewat bilangan hari

pergi saja dengan dia yang kau gilai

cinta ini sudah mati

bersama ribuan benci

yang membusuk di dalam kubangan hati



hilang saja bersama gumpalan dengki

atau pergi menyendiri di balik jeruji besi

wajahmu jangan lagi kau bawa kemari

ke hati yang terbunuh oleh janji ilusi

agar aku bisa merendam marah dan caci



biarkan aku sendiri

jangan lagi mengharap maaf dari hati

hapus aku dari mimpi-mimpi

biarkan aku berteman dengan sepi

membasuh luka dengan petunjuk Ilahi

Syams-X
Bandung, 2014
Baca Selengkapnya »

Puisi: Ranca Tiis


sumber gambar: pribadi



Adakah yang ingat betapa hijaunya bukit itu?
Bukit yang kini telah gundul dipangkas hasrat.
Bukit yang telah bermahkotakan bangunan, vila, dan wahana wisata.

Adakah yang ingat nama-nama burung yang pernah tinggal di bukit itu?
Bukit yang telah lama bisu karena keegoisan.
Bukit yang tak lagi mendendangkan indahnya ribuan kicau burung.

Adakah yang masih menangis karena bencana longsor dari bukit itu?
Bukit yang tak lagi memiliki pijakan karena ditebang ambisi.
Bukit yang tak mampu lagi bertahan dan memberikan perlindungan.

Syams-X
Ranca tiis, 2015
Baca Selengkapnya »